Review Watch Dogs 2: Ketika Satu Kota Ada Digenggaman Tangan

177 views

Kamis, 29 Desember 2016 | 16:48 WIB

Review Watch Dogs 2: Ketika Satu Kota Ada Digenggaman Tangan

Game Playstation 4 "Watch Dogs 2". playstation.com

Informasi, Jakarta - Kamu adalah seorang hacker. Bermodalkan sebuah telepon seluler dan komputer jinjing, kamu bisa meretas hampir seluruh infrastruktur kota. Bahkan, kamu bisa menguping dan membaca sms orang. Itulah konsep permainan yang ditawarkan Watch Dogs 2.

Sempat dipandang sebelah mata oleh para gamer gara-gara pendahulunya, permainan besutan Ubisoft ini sekarang malah dipuji-puji sebagai salah satu game open world terbaik. Berbeda dari kebanyakan game open world di mana kamu harus menyelesaikan satu misi untuk membuka bagian kota lain. Di Watch Dogs 2, kamu sudah bisa menjelajahi seluruh San Fransisco sejak awal permainan. Bahkan kamu menyebrang berlayar menggunakan kapal ke pulau Alcatraz dan penjaranya yang tersohor tersebut.

Di Watch Dogs 2 ini kamu tidak lagi bermain sebagai Aiden Pearce, tokoh di seri sebelumnya. Ubisoft kali ini memperkenalkan seorang “hero” baru bernama Marcus Holloway alias Retr0. Tema yang disung pun sangat jauh berbeda dengan Watch Dogs. Jika dulu Aiden memiliki misi utama balas dendam atas kematian keponakannya, kali ini Marcus hanya ingin membongkar konspirasi perusahaan digital-digital yang bermarkas di Silicon Valey.

Game yang dirilis pada pertengahan November lalu ini dibuka dengan upaya Marcus dan DedSec, geng hacker, yang menyusup ke server ctOS generasi 2. Tujuannya, menghapus catatan kriminal Marcus. Ia berang karena dituduh berbuat sesuatu yang tidak dilakukannya.

Rupanya, Marcus “iseng”. Ia tidak hanya menghapus catatan kriminalnya. Marcus bahkan menanam back door di server ctOS 2.0 sehingga dia dan DedSec punya akses ke hampir seluruh infrastuktur serta perangkat pribadi di San Fransisco. Alkisah, di game dengan setting San Fransisco beberapa tahun mendatang ini, seluruh perangkat elektronik—bahkan mobil—terhubungan dengan ctOS 2.0.

Berangkat dari keresahan pribadi inilah Marcus dan DedSec sepakat menjatuhkan Blume, perusahaan dibalik ctOS 2.0. Alasan awalnya sederhana, anak-anak muda ini berpendapat Blume sudah terlalu jauh masuk ke ranah pribadi publik. Belakangan, kamu juga akan disuguhi cerita bahwa ada konspirasi antara perusahaan ini dengan partai politik bahkan FBI.

Untuk menjatuhkan Blume, pemain harus mengumpulkan jutaan followers. Marcus harus menyelesaikan setiap misi untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya pengikut. Ada banyak jenis misi di dalam Watch Dogs 2, ada yang utama (berkaitan dengan menjatuhkan Blume), misi sampingan yang muncul karena bersisian dengan misi utama, misi intelijen (memata-matai orang), atau sebagai tukang antar jemput ala sopir Uber.

Ada juga misi sampingan di mana kamu menjadi juru foto. Tugasnya mengumpulkan foto land mark San Fransisco. Salah satu foto bahkan mengharuskan kamu memanjat Golden Gate untuk mengambil gambar kota dari atas. Atau mencari zombie di pemakaman.

Urusan followers menjadi nyawa penting dalam game ini. Sebab, Marcus diharuskan mengumpulkan apa yang disebut research point untuk menambah kemampuan meretasnya. Jumlah followers berbanding lurus dengan banyaknya research point yang kamu miliki.

Di awal permainan, kemampuan meretas Marcus sangat terbatas. Dia hanya bisa memasang jebakan listrik untuk melumpuhkan penjaga atau mencuri uang dari rekening seseorang. Bahkan, di awal-awal permainan kamu tidak akan leluasa mencuri mobil yang parkir. Sebab sistem alarm akan berbunyi dan berpotensi mengundang polisi.

Untuk menambah kemampuan meretas ini lah Marcus harus mengoleksi research point. Setiap jumlah tertentu yang berhasil dikumpulkan, Marcus bisa menambah daya retasnya di research tree. Total ada tujuh “pohon pengetahuan” yang bisa Marcus tumbuhkan untuk menambah keahliannya. Masing-masing pohon memiliki ranting.

Nah, Watch Dogs 2 memberi kamu pilihan ingin menjadi Marcus seperti apa. Setidaknya ada tiga pilihan. Pertama Marcus sebagai pembunuh. Tipe ini mengandalkan perang senjata. Jenis Marcus yang memberondong senapannya ketika harus menggeruduk sarang musuh.

Tipe kedua adalah diam-diam. Marcus datang dan melumpuhkan musuh tanpa ketahuan. Agak sulit memang, karena ada beberapa misi dengan penjagaan super ketat. Dan tipe terakhir, sekaligus favorit saya, adalah Marcus sebagai hantu. Di mana dia mengandalkan seluruh peralatan yang ada untuk menyelesaikan misi tanpa menyentuh penjaga.

Bahkan ada jenis research tree  type hantu yang bisa “menyuruh” polisi untuk datang ke sebuah markas gangster atau sebaliknya. Sehingga mereka berperang satu sama lain, sementara Marcus duduk tenang.

Meski ada tiga “tipe Marcus”, pada dasarnya Watch Dogs bukan jenis game yang mengharuskan kamu menyelesaikan misi dengan satu gaya. Kamu bisa mengkombinasikan semuanya. Tipsnya: semakin banyak research tree yang kamu kuasai, maka Marcus akan semakin mudah menyelesaikan misi.


Karena research tree menjadi sangat penting, kami menyarankan pemain tidak usah terburu-buru menyelesaikan misi utama. Bermain-mainlah di misi sampingan agar mendapat banyak research point. Atau kamu bisa menjelajahi seisi kota untuk mengumpulkan research point. Sedikit tips, biasanya research point ada di gedung-gedung tinggi atau menara.

Saya sendiri baru serius di misi utama setelah berhasil membuka akses ke seluruh research tree. Rasanya layak berlama-lama di misi sampingan untuk mendapat kepuasan menuntaskan main mission tanpa berkeringat.

Selain urusan research point, Marcus juga dibekali drone dan mobil-mobilan remote control. Keduanya sangat membantu dalam semua misi Marcus. Drone, misalnya, bisa digunakan untuk memetakan posisi penjaga agar muncul di peta. Atau untuk meretas gawai yang ada di lokasi tinggi.

Kedua benda ini tidak didapatkan secara cuma-cuma. Marcus mesti membelinya di markas DedSec. Saran saya saat awal bermain langsung kumpulkan uang untuk membeli dua barang ini. Sedikit bocoran, salah satu “cabang pohon pengetahuan” bahkan memberi kemampuan pada drone dan RC Car Marcus untuk memasang peledak atau bom listrik.

Bagian memasang peledak ini favorit saya. Tipsnya, Marcus berdiri di luar area merah dan tinggal gerakan drone atau RC ke markas musuh. Pasang bom lalu hancurkan. Selesai. Selama kamu tidak menenteng senjata atau berada di area merah, musuh yang sedang menyisir lokasi tidak akan menyerangmu.


Urusan uang bukan perkara sulit di Watch Dogs 2 sebab kamu bisa mengambil dari rekening seseorang. Saking gampangnya memperoleh uang, saya sendiri sampai tidak tahu fungsi duit ini di Watch Dogs 2 selain untuk membeli baju atau iseng-iseng mobil mewah. Sebab tidak ada misi yang mengharuskan kamu punya uang banyak.

Watch Dogs memang layak diacungi jempol untuk segi grafis. Detail kota San Fransisco tergambar bagus. Interior di dalam rumah juga bisa diacungi jempol. Urusan detail seperti bayangan orang juga presisi. Bahkan kamu bisa menikmati matahari terbit dan tenggelam di beberapa sudut kota.

Ubisoft bahkan menambahkan gimmick di penduduk San Fransisco yang berkeliaran di seluruh kota. Misalnya, saat Marcus akan selfie, ujug-ujug bisa ada orang yang ikut nimbrung. Atau saat ada sesi foto pre-wedding, kamu bisa membuat marah mereka dengan nylonong di antaranya. Bahkan, seseorang bisa ujug-ujug menonjokmu gara-gara tidak sengaja menabrak mereka saat berjalan kaki.

Marcus bisa dengan mudah menguping pembicaraan penduduk atau membaca sms mereka. Namun hal ini tidak berimplikasi apa-apa terhadap moral permainan selain sekedar just know what they are talking about. Mungkin Ubisoft bisa belajar dari game “inFamous Second Son” besutan Sucker Punch Production. Di mana urusan moral--dalam game yang juga mengusung open world itu di sebut karma--menentukan seperti apa si tokoh dalam cerita.

Marcus juga punya pilihan untuk memukuli orang yang sedang jalan kaki, menembaki mereka, atau meledakan mobil untuk menimbulkan kepanikan dan memancing polisi. Bagian semacam ini selalu mengingatkan saya pada Grand Theft Auto San Andreas, maklum masa kecil di rental. Tapi, rasanya juga sia-sia menembaki orang di jalanan karena pada dasarnya kamu adalah hacker bukan preman.

Urusan kejar-kejaran dengan polisi di Watch Dogs 2 boleh di bilang gampang jika tahu celahnya. Saya sendiri selalu lari ke laut dan mencuri kapal. Sebab, polisi berkapal relatif sedikit jumlahnya dibandingkan yang bermobil dan akan lebih mudah lari karena minus hambatan.

Nah, jika level hacker kamu masih culun sebaiknya tidak usah coba-coba menghajar orang hanya untuk minta dikejar polisi. Sebab, ketika bintang buruan mu mencapai level 3 ke atas, akan ada helicopter dengan penembak jitu yang memberondongmu. Plus, seluruh gangster di kota akan memburumu. Repot.

Kelemahan game ini hanya soal alur cerita. Ada bolong yang terasa ketika kamu menyelesaikan satu misi dan lanjut ke berikutnya. Nantinya, akan ada misi di mana salah satu anggota DedSec tewas karena dibunuh seorang anggota gengster. Kamu membalas dengan menghancurkan bandit-bandit itu. Tapi ketika selesai, kelompok gangster ini toh tetap ada.

Keseluruhan, Watch Dogs 2 sangat asyik dimainkan. Konsep open world yang benar-benar terbuka dari Ubisoft layak diacungi jempol. Kebebasan pemain untuk memilih menjadi Marcus seperti apa juga ide yang sangat berani. Game yang layak untuk menutup 2016.

SYAILENDRA PERSADA

Sumber : http://tempo.co/read/news/2016/12/29/097831166/Review-Watch-Dogs-2-Ketika-Satu-Kota-Ada-Digenggaman-Tangan

Leave a reply "Review Watch Dogs 2: Ketika Satu Kota Ada Digenggaman Tangan"

Author: 
    author